SINDITOnews.com | Mamuju,— Di tengah janji-janji manis “pembangunan merata”, Kecamatan Kalumpang, Mamuju, Sulawesi Barat, justru tenggelam dalam lumpur nyata—dan penderitaan nyata. Bukan metafora. Ini fakta: warga terpaksa menandu jenazah sejauh 4 kilometer di malam buta karena ambulans tak bisa menembus jalan yang lebih mirip rawa daripada akses publik. (7/4)
Dan bukan sekali. Pada Maret 2026, seorang perempuan sakit parah harus digotong selama 8 jam—delapan jam!—melewati lumpur setinggi lutut hanya untuk sampai ke puskesmas terdekat. Nyawanya bergantung pada kekuatan lengan tetangga, bukan pada sistem kesehatan atau infrastruktur negara.
Rute Kalumpang–Batuisi hingga Dusun Lebani kini jadi mimpi buruk hidup-hidup. Aspal? Sudah lama lenyap. Yang tersisa: lumpur tebal, jurang terbuka, dan tanah amblas—terutama setelah jalan poros Bonehau–Kalumpang amblas ke jurang Februari lalu. Tapi sampai hari ini? Tak ada alat berat. Tak ada tim teknis. Hanya rakyat yang terus dipaksa bertaruh nyawa.
Sementara rakyat menggotong saudaranya yang sekarat melewati jalan berlumpur, para pejabat masih duduk nyaman—mungkin sedang rapat virtual, mungkin sedang cuti, atau mungkin sibuk unggah foto “blusukan” di lokasi lain yang sudah bagus jalannya.
Tapi di Kalumpang, tak ada panggung. Tak ada backdrop. Hanya lumpur, tangis, dan kematian yang datang diam-diam.
Eliasib, Ketua Komda LP.K-P-K Sulbar, menyebut kondisi ini bukan sekadar kelalaian—tapi kekejaman sistematis:
“Mereka memilih buta. Mereka pura-pura tuli. Padahal jeritan rakyat sudah pecah gendang telinga! Ini bukan soal anggaran—ini soal hati nurani yang mati.” tegas eliasib, pada awak media, Selasa, 7/4/2026.
Ia menantang hati nurani para pemimpin: Gubernur, Bupati, DPRD, camat, kepala desa—tinggalkan kursi empukmu. Turunlah ke Lebani. Coba lewati jalan itu dengan mobil dinasmu. Coba bawa ibumu yang sakit melewati lumpur itu. Coba kuburkan ayahmu di malam hujan tanpa kendaraan.
“Jangan tunggu rakyat mati massal baru kau sadar. Kekuasaan itu pinjaman—dan Tuhan sedang mencatat siapa yang diam saat rakyat menjerit.”
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah setempat dan inspeksi mendadak serta emergency response. Namun rakyat Kalumpang—yang terus berjalan di lumpur, membawa hidup dan kematian di atas pundak mereka sendiri masih menaruh harapan hadirnya negara mengatasi hal ini.
Karena bagi mereka, negara bukan lagi pelindung—tapi khayalan.
Redaksi: Sindito News
Narasumber: Eliasib (Ketua Komisi Daerah Lembaga Pengawal Kebijakan Pemerintah dan Keadilan) Sulawesi Barat.

