Abdul Kadir Koro PENAS XVII: Meriah di Panggung, Saatnya Serius Menjawab Persoalan Petani dan Nelayan

REDAKSI : SINDITOnews.com 

GORONTALO – Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 yang digelar di Gorontalo patut diapresiasi sebagai salah satu agenda nasional terbesar yang pernah diselenggarakan di daerah ini. Kegiatan yang dihadiri sekitar 15.000 hingga 20.000 peserta dari berbagai provinsi tersebut berhasil menggerakkan ekonomi masyarakat, mulai dari sektor penginapan, kuliner, transportasi, hingga UMKM lokal.

‎Data Pemerintah Kabupaten Gorontalo menunjukkan bahwa hingga hari kedua pelaksanaan PENAS XVII, transaksi UMKM telah mencapai lebih dari Rp542 juta. Bahkan pada hari ketiga, nilai transaksi UMKM kembali menembus Rp256,8 juta. Angka tersebut menjadi bukti bahwa kegiatan berskala nasional mampu memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat.

‎Tidak hanya pelaku UMKM, manfaat ekonomi juga dirasakan oleh pedagang kecil, pengemudi bentor, pelaku usaha kuliner, hingga pemilik homestay yang menjadi tempat menginap para peserta. PENAS XVII telah membuktikan bahwa ketika sebuah daerah dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan nasional, maka perputaran ekonomi rakyat dapat meningkat secara signifikan.

‎Namun di balik kemeriahan tersebut, ada pertanyaan yang perlu dijawab secara jujur oleh pemerintah. Apakah PENAS XVII hanya akan menjadi acara seremonial yang selesai setelah panggung dibongkar, atau benar-benar meninggalkan warisan pembangunan bagi petani dan nelayan Gorontalo?

‎Kritik ini penting disampaikan karena hingga hari ini masih banyak petani yang mengeluhkan persoalan klasik seperti harga hasil panen yang tidak stabil, tingginya biaya produksi, sulitnya akses pupuk, serta terbatasnya irigasi di sejumlah wilayah. Di sektor perikanan, nelayan masih berhadapan dengan persoalan akses modal, ketersediaan fasilitas penyimpanan hasil tangkapan, dan pemasaran produk yang belum optimal.

‎Pemerintah tentu patut diapresiasi atas keberhasilannya menghadirkan PENAS XVII di Gorontalo. Akan tetapi, keberhasilan sesungguhnya bukan terletak pada ramainya peserta atau megahnya acara pembukaan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika setelah PENAS berakhir, kesejahteraan petani dan nelayan benar-benar meningkat.

‎Jangan sampai miliaran rupiah yang dikeluarkan untuk menyukseskan kegiatan ini hanya menghasilkan dokumentasi dan publikasi media sosial semata. PENAS harus menjadi titik awal lahirnya kebijakan konkret yang berpihak kepada petani dan nelayan, seperti pembangunan infrastruktur pertanian yang berkelanjutan, peningkatan akses pasar, penguatan koperasi petani, serta perlindungan harga komoditas lokal.

‎Sebagai daerah yang dikenal memiliki potensi pertanian dan perikanan yang besar, Gorontalo membutuhkan lebih dari sekadar event nasional. Gorontalo membutuhkan keberanian pemerintah untuk memastikan bahwa semangat PENAS XVII diterjemahkan menjadi program nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat hingga ke desa-desa.

‎Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan PENAS XVII bukanlah seberapa meriah acara ini berlangsung, melainkan seberapa besar perubahan yang dirasakan oleh petani dan nelayan setelah para tamu kembali ke daerahnya masing-masing.(Red:YK)