Di Suwawa, Perlawanan Bangkit, Pengkhianat pun Terungkap //

Di Suwawa, Perlawanan Bangkit, Pengkhianat pun Terungkap //

Di Suwawa, Perlawanan Bangkit, Pengkhianat pun Terungkap //

Oleh: Iskandar Alaina

Gorontalo — Suwawa, Bone Bolango, adalah tanah yang dulu memberi kehidupan bagi rakyatnya.

Emas di perut bumi menjadi sumber penghidupan.

Rakyat menggali dengan tangan sendiri, bukan untuk mengejar kemewahan, tapi untuk memastikan anak-anak tetap sekolah, dapur tetap berasap, dan hidup terus berjalan.

Hingga suatu hari, sebuah nama korporasi masuk membawa janji investasi: PT Gorontalo Minerals.

Sejak itu, ruang hidup rakyat mulai menyempit.

Daripada terus hidup tertekan, rakyat memilih bangkit melawan.

Perlawanan itu tidak lahir dari gedung-gedung megah di ibu kota, bukan pula dari mereka yang mengaku cendekiawan. Ia lahir dari kampung-kampung. Dari tukang ojek, tukang pikul, penambang, dan orang-orang yang khawatir akan masa depan anak cucu serta tanah kelahiran mereka.

Perjuangan ini tidak mulus.

Entah sudah berapa kepala yang terkena pentungan.

Entah berapa ancaman penjara yang dilayangkan.

Bahkan nyawa yang terancam..

Namun rakyat tidak gentar.

Perlawanan yang dulu berawal dari kampung-kampung kini telah sampai ke pusat kota.

Mereka tahu: ini adalah perjuangan untuk hidup.

Tiga Wajah di Panggung Sejarah

Dalam setiap perjuangan, selalu ada tiga wajah yang tampil di panggung sejarah.

Wajah pertama adalah para pejuang; mereka yang berdiri tegak meski hujan batu mengguyur.

Wajah kedua adalah mereka yang dilawan; yang datang dengan bendera kuasa dan ambisi.

Dan wajah ketiga… adalah wajah yang paling pahit untuk diingat: para pengkhianat.

Di Gorontalo, sejarah merekam banyak nama pejuang. Nani Wartabone salah satunya, yang hingga kini menjadi simbol yang tak pernah padam.

Tapi soal pengkhianat? Hanya tersisa cerita lisan. Berpindah dari mulut ke telinga. Tak pernah resmi tercatat.

Kini zaman berubah

Teknologi tak lagi memberi ruang bagi pengkhianat untuk bersembunyi.

Nama, wajah, dan sikap mereka bisa terekam. Bisa diputar ulang. Bisa disimpan selamanya.

Cerita tentang pengkhianat akan terus diingat.

Diingat bukan karena jasanya, tapi karena kebengisan mereka yang tega meminum darah dan memakan daging saudara sendiri demi segenggam keuntungan dari tuan korporat.

Mereka lupa, keuntungan itu tak akan bertahan lama.

Ketika pengaruh mereka melemah, mereka pun akan digilas.

Mulai Panik: Menghasut dan Mengancam

Perlawanan rakyat tak pernah disukai mereka yang berkuasa.

Apalagi jika yang diungkap adalah kebenaran yang menelanjangi wajah mereka.

Maka, mulailah upaya membungkam.

Ada yang menghasut. Ada yang menyebar isu pemecah belah.

Beberapa orang bahkan mulai meninggalkan barisan.

Beredar pula kabar bahwa para penggerak perjuangan dipanggil aparat satu per satu.

Alasannya: ada warga yang “gerah” dengan aktivitas penambang.

Benarkah demikian?

Atau ini hanya cara untuk melemahkan perjuangan?

Jika benar pihak sebelah mulai panik, yakinlah perjuangan ini sedang berada di jalur yang tepat.

Bukan Sekadar Soal Perut

Perjuangan ini bukan hanya soal perut yang harus terisi.

Ini adalah perjuangan untuk menjaga tanah, air, dan udara dari tangan-tangan yang datang dengan topeng investasi, padahal sejatinya adalah penjarah yang bersembunyi di balik lembar izin.

Kepada mereka yang memilih berdiam, ingatlah diam pun adalah sikap.

Kepada mereka yang memilih menghalangi, sadarilah sejarah punya cara sendiri untuk mengingat nama-nama itu.

Sejarah mungkin sabar.

Tapi sejarah tidak pernah lupa.

#KembalikankeRakyat

#GorontaloBerdaulat