SINDITOnews.com | Teheran,— Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak akan menerima gencatan senjata dalam konflik yang tengah berlangsung dengan Israel dan Amerika Serikat. Dalam wawancara eksklusif pada Sabtu (21/3), Araghchi menyatakan bahwa Teheran hanya bersedia mendukung penyelesaian yang benar-benar mengakhiri perang secara komprehensif, permanen, dan berkelanjutan.
“Kami tidak akan menerima gencatan senjata. Kami ingin akhir yang lengkap, komprehensif, dan berkelanjutan untuk perang,” tegas Araghchi.
Pernyataan ini memperkuat posisi keras Iran di tengah eskalasi ketegangan regional yang terus meningkat sejak pecahnya serangkaian serangan balasan antara Teheran, Tel Aviv, dan Washington dalam beberapa pekan terakhir. Menurut Araghchi, gencatan senjata—yang biasanya bersifat sementara—berpotensi menjadi jeda strategis bagi lawan untuk memulihkan kekuatan, sehingga berisiko memicu putaran kekerasan baru di masa depan.
“Kami tidak meminta jeda. Kami menuntut jaminan bahwa musuh tidak akan pernah lagi berani melancarkan serangan semacam ini,” tambahnya, merujuk pada serangan udara gabungan AS-Israel terhadap infrastruktur pertahanan Iran awal bulan ini.
Pernyataan Araghchi sejalan dengan laporan media internasional, termasuk Iran International, Al Jazeera, dan Middle East Monitor, yang mencatat bahwa Iran secara konsisten menolak ajakan negosiasi atau gencatan senjata jangka pendek sejak konflik memasuki fase intensif pada pertengahan Maret 2026.
Langkah ini menandai penolakan terhadap tekanan diplomatik internasional, termasuk dari PBB dan Uni Eropa, yang mendesak semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan demi mencegah korban sipil lebih lanjut dan menjaga stabilitas global.
Dengan sikap ini, Iran tampaknya memilih jalur perlawanan militer dan diplomasi tuntutan maksimalis, menempatkan konflik di ambang kemungkinan eskalasi lebih luas—termasuk potensi keterlibatan aktor regional lain seperti Hizbullah, Hamas, atau kelompok pro-Iran di Irak dan Yaman.
Komunitas internasional kini mengkhawatirkan bahwa tanpa terobosan diplomatik segera, kawasan Timur Tengah bisa terjerumus ke dalam perang regional skala penuh. (Red.SN)
Sumber: SPUTNIK INDONESIA

