SINDITOnews.com | BONE BOLANGO – Kawasan pertambangan Suwawa kembali dinodai insiden berdarah. Peristiwa penikaman yang terjadi di Titik Bor 1 baru-baru ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan cermin retaknya sistem pengawasan di wilayah konsesi tersebut. Aktivis Gorontalo, Novan Lahmudin, menyoroti betapa rentannya keamanan di area yang seharusnya terkendali ketat.
Menurutnya, masuknya minuman keras (miras) dan senjata tajam ke jantung operasional tambang membuktikan bahwa pos pengamanan di Desa Tulabolo yang di jaga oleh Ormas Aliansi Masyarakat Adat Lokal (AMAL) gagal menjalankan fungsinya secara substansial.
“Keamanan di sana jangan hanya jadi formalitas administratif. Nyawa manusia dan ketertiban umum adalah taruhannya. Jika miras dan sajam bisa menembus penjagaan, berarti ada lubang besar dalam sistem pengamanan tersebut,” tegas Novan. Senin, 2/2/2026.
Selain itu, sebagai pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), PT Gorontalo Minerals (PT GM) memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk menjamin sterilitas wilayah konsesinya dari potensi konflik. Novan mengingatkan bahwa pembiaran terhadap situasi ini bisa berimplikasi pada sanksi administratif bagi pemegang izin, sesuai regulasi pertambangan yang berlaku.
Kini, bola panas berada di tangan Aparat Penegak Hukum (APH) dan Pemerintah Daerah. Publik mendesak adanya pembersihan wilayah dan penertiban nyata di Titik Bor 1 dan 3. Tanpa langkah konkret dan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen pengamanan, kawasan Tambang Suwawa dikhawatirkan akan terus membara di bawah bayang-bayang konflik yang bisa meledak kapan saja.
Penegakan aturan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan demi memastikan kepastian hukum dan keselamatan di tanah tambang. (Red.SN)

