Horor Antrean BBM dan Kekhawatiran Publik atas Ketersediaan Energi

REDAKSI : SINDITOnews.com

Antrean Panjang BBM Memicu Kekhawatiran Masyarakat

Jakarta — Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU) memunculkan kekhawatiran baru di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Selain menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, sebagian warga kini harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM, sebuah kondisi yang dinilai menambah beban kehidupan sehari-hari.

Pakar Hukum Internasional dan Ekonom Nasional, Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, menyatakan bahwa pemerintah perlu segera merespons keresahan masyarakat terkait ketersediaan BBM di pasaran. Pernyataan tersebut disampaikan saat menanggapi pertanyaan sejumlah media di Jakarta, Jumat (13/6/2026).

Menurutnya, antrean panjang di SPBU telah menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakpastian bagi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada ketersediaan BBM dengan harga terjangkau.

“Yang menjadi kekhawatiran masyarakat bukan hanya persoalan harga, tetapi juga adanya ancaman kelangkaan BBM yang memicu antrean panjang di berbagai SPBU. Pemerintah perlu mengantisipasi ketakutan yang berkembang di tengah masyarakat dan memastikan ketersediaan stok tetap aman,” ujar Sutan Nasomal.

Ia menilai fenomena antrean BBM merupakan situasi yang tidak seharusnya terjadi di Indonesia yang selama ini dikenal sebagai negara kaya sumber daya alam, termasuk minyak bumi, gas, emas, dan nikel. Karena itu, menurutnya, jaminan distribusi dan pasokan energi menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi.

Dampak terhadap Aktivitas dan Produktivitas

Antrean BBM yang berlangsung hingga satu sampai dua jam, bahkan lebih, dinilai telah mengganggu aktivitas masyarakat. Pengendara roda dua menjadi kelompok yang paling terdampak karena harus menunggu dalam kondisi cuaca panas dalam waktu yang lama.

Selain menguras tenaga, kondisi tersebut juga berpotensi menurunkan produktivitas masyarakat akibat keterlambatan dalam menjalankan aktivitas pekerjaan maupun usaha.

“Ketika masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM, maka dampaknya tidak hanya pada kenyamanan, tetapi juga pada produktivitas dan efektivitas waktu,” katanya.

Tekanan Harga dan Harapan Intervensi Pemerintah

Di sisi lain, kenaikan biaya energi dinilai turut memengaruhi harga berbagai kebutuhan masyarakat. Biaya transportasi dan distribusi yang meningkat berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa di berbagai sektor.

Karena itu, Sutan Nasomal berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memperkuat program-program perlindungan sosial dan stabilisasi harga kebutuhan pokok. Salah satu langkah yang dinilai dapat membantu masyarakat adalah penyelenggaraan pasar murah untuk menjaga daya beli kelompok ekonomi rentan.

“Masyarakat berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga harga kebutuhan pokok tetap terjangkau sehingga tekanan ekonomi tidak semakin berat,” ujarnya.

Perhatian bagi Lansia dan Anak Yatim

Dalam kesempatan tersebut, Sutan Nasomal juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak kondisi ekonomi, khususnya lanjut usia dan anak-anak yatim.

Menurutnya, banyak lansia yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan bekerja secara produktif dan tidak mempunyai sumber penghasilan tetap. Kondisi tersebut memerlukan dukungan melalui program bantuan sosial yang tepat sasaran.

Ia juga mengimbau pemerintah daerah untuk memperkuat pendataan dan penyaluran bantuan kepada masyarakat miskin di wilayah pedesaan agar kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi.

“Nasib para lansia yang sudah tidak mampu bekerja dan tidak memiliki penghasilan perlu menjadi perhatian serius. Demikian pula anak-anak yatim yang membutuhkan perlindungan dan dukungan agar tetap mendapatkan kehidupan yang layak,” katanya.

Tantangan Menjaga Stabilitas

Fenomena antrean BBM menunjukkan bahwa stabilitas pasokan energi masih menjadi faktor penting dalam menjaga ketenangan masyarakat dan kelancaran aktivitas ekonomi. Di tengah tekanan biaya hidup yang meningkat, kepastian ketersediaan energi menjadi kebutuhan mendasar yang sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Pemerintah diharapkan mampu memastikan distribusi BBM berjalan lancar, menjaga ketersediaan stok, serta memperkuat berbagai program perlindungan sosial guna mengurangi dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat, terutama kelompok rentan.

Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, dan Pengasuh Ponpes Ass Saqwa Plus.