MEDIA INTERNASIONAL SOROT EKONOMI INDONESIA, AKPERSI INGATKAN BAHAYA PERANG PERSEPSI GLOBAL TERHADAP KEPERCAYAAN NASIONAL

REDAKSI : SINDITOnews.com

JAKARTA – Gelombang pemberitaan media internasional yang menyoroti kondisi ekonomi Indonesia kembali memantik perdebatan mengenai batas antara analisis pasar dan pembentukan persepsi global terhadap suatu negara. Di tengah menguatnya narasi tentang tekanan terhadap rupiah, keluarnya modal asing, hingga meningkatnya kehati-hatian investor internasional, Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (DPP AKPERSI) mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan informasi dan kepercayaan nasional.

Ketua Umum DPP AKPERSI, Rino Triyono, menilai masyarakat perlu menyikapi setiap laporan ekonomi global secara objektif, namun tidak kehilangan kemampuan berpikir kritis terhadap narasi yang berkembang di pusat-pusat keuangan internasional.

Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah media internasional berbasis Singapura dan lembaga pemberitaan global menyoroti meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia. Laporan-laporan tersebut mengulas pelemahan rupiah, dinamika pasar obligasi, hingga persepsi risiko investasi yang dinilai mengalami perubahan dalam beberapa waktu terakhir.

Di pasar keuangan modern, persepsi sering kali memiliki pengaruh yang hampir sama besar dengan fundamental ekonomi itu sendiri. Ketika sentimen negatif berkembang secara luas, investor cenderung mengambil langkah antisipatif melalui pengalihan aset, penyesuaian portofolio, atau penundaan ekspansi investasi. Dalam situasi seperti itu, narasi dapat berkembang menjadi faktor ekonomi yang nyata.

“Indonesia harus mampu membedakan antara kritik yang konstruktif dengan narasi yang berpotensi membentuk persepsi jangka panjang terhadap daya saing dan stabilitas nasional,” kata Rino.

Pernyataan tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai fenomena yang dikenal dalam dunia ekonomi dan geopolitik sebagai market perception. Dalam berbagai krisis ekonomi dunia, mulai dari Asia tahun 1998 hingga Eropa pasca-krisis utang, persepsi investor terbukti mampu mempercepat tekanan terhadap suatu negara bahkan sebelum indikator ekonomi memburuk secara signifikan.

Namun demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa pemberitaan media internasional tidak dapat serta-merta dipandang sebagai upaya sistematis untuk melemahkan Indonesia. Media global umumnya bekerja berdasarkan data pasar, indikator fiskal, kebijakan moneter, dan respons investor yang dapat diukur secara objektif. Oleh karena itu, substansi laporan-laporan tersebut tetap perlu diuji berdasarkan fakta ekonomi yang tersedia.

Di sisi lain, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: mengapa narasi negatif terhadap Indonesia memperoleh ruang yang begitu besar dalam percakapan global? Pertanyaan ini membawa diskusi pada aspek yang lebih luas, yakni persaingan persepsi di era ekonomi digital dan keterhubungan pasar internasional.

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global, cadangan sumber daya alam yang besar, serta pasar domestik yang menjadi salah satu yang terbesar di kawasan. Faktor-faktor tersebut menjadikan Indonesia bukan hanya objek investasi, tetapi juga objek perhatian berbagai pusat keuangan dunia.

Dalam konteks tersebut, AKPERSI mengingatkan bahwa ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, melainkan juga oleh kemampuan bangsa dalam mengelola informasi dan menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara.

“Kepercayaan adalah aset yang tidak tercatat dalam neraca keuangan, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi dan sosial,” ujar Rino.

Meski mengkritisi sejumlah narasi internasional, AKPERSI menegaskan bahwa Indonesia tetap menghormati kebebasan pers dan independensi media global. Kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat. Namun organisasi tersebut mengingatkan agar masyarakat tidak menerima setiap narasi secara mentah tanpa proses verifikasi dan analisis yang memadai.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tantangan terbesar Indonesia bukan semata menghadapi sorotan media internasional, melainkan memastikan bahwa fundamental ekonomi tetap kuat, kepastian hukum terjaga, investasi produktif terus tumbuh, dan kepercayaan publik terhadap masa depan bangsa tidak terkikis oleh gelombang persepsi yang berkembang di luar negeri.

Pada akhirnya, pasar dapat dipengaruhi oleh sentimen, tetapi daya tahan sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuannya menjawab kritik dengan kinerja, menjawab keraguan dengan prestasi, dan menjawab pesimisme dengan hasil yang nyata. Di titik itulah pertaruhan sesungguhnya berada: bukan pada bagaimana Indonesia diberitakan dunia, melainkan bagaimana Indonesia membuktikan dirinya kepada dunia.

Rilis :DPP AKPERSI