Usman Hulopi Kecam Pernyataan Rahwandi Botutihe: Jangan Jadikan Musibah Tiga Nyawa untuk Bangun Opini Murahan Copot Kapolres
Redaksi: SINDITOnews.com
BONE BOLANGO — Tokoh penambang tradisional Suwawa Timur, Usman Hulopi, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan Rahwandi Botutihe yang mengaitkan meninggalnya tiga warga di lokasi pertambangan dengan desakan pencopotan Kapolres Bone Bolango.
Menurut Usman, narasi tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga berpotensi menyesatkan publik karena mencampuradukkan musibah kecelakaan kerja dengan agenda yang tidak memiliki hubungan langsung dengan peristiwa yang terjadi.
“Saya sangat menyayangkan pernyataan itu. Tiga nyawa melayang adalah musibah yang harus dihormati dan menjadi duka bersama. Jangan kemudian musibah itu dijadikan komoditas opini untuk menyerang pihak tertentu tanpa argumentasi yang jelas,” tegas Usman. Minggu, (7/6/2026)
Ia mempertanyakan dasar Rahwandi yang secara sepihak menyebut aktivitas pertambangan yang selama ini menjadi sumber penghidupan ribuan warga Suwawa Timur sebagai aktivitas ilegal.
“Rahwandi harus menjelaskan kepada publik, dasar apa yang digunakan sehingga dengan mudah memberi cap ilegal kepada masyarakat yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup di wilayah itu. Jangan berbicara seolah paling memahami persoalan tambang rakyat jika realitas di lapangan tidak dipahami secara utuh,” katanya.
Menurut Usman, persoalan pertambangan rakyat di Suwawa Timur jauh lebih kompleks daripada sekadar memberi label hitam-putih. Ada ribuan kepala keluarga yang menggantungkan kehidupan ekonomi mereka dari aktivitas tersebut, sehingga perdebatan mengenai tata kelola pertambangan harus dibangun dengan data dan pemahaman yang komprehensif.
“Kalau ingin mengkritik, silakan. Tapi jangan membangun kesimpulan yang terkesan mencari sensasi. Masyarakat butuh solusi, bukan pernyataan yang memperkeruh keadaan dan menimbulkan stigma terhadap para penambang tradisional,” ujarnya.
Usman menegaskan bahwa setiap pihak berhak menyampaikan pendapat, namun opini yang disampaikan kepada publik harus dilandasi fakta, logika yang sehat, dan rasa tanggung jawab.
“Belajarlah memahami persoalan secara utuh sebelum mengeluarkan pernyataan yang menghakimi ribuan masyarakat. Jangan sampai publik melihat bahwa yang disampaikan lebih banyak asumsi daripada pemahaman terhadap realitas yang sebenarnya terjadi di Suwawa Timur,” pungkasnya. (Red.SN)

